DDD di Dunia Nyata, Antara Ideal dan Kenyataan
Setelah memahami konsep DDD dari sisi teori, strategi, dan taktik, sering kali muncul satu kesimpulan sederhana dari engineer yang sudah mencoba menerapkannya: “DDD di buku itu indah. Tapi di dunia nyata… ya, tidak sesempurna itu.”
Dan memang benar. Vlad Khononov sendiri menekankan sejak awal bahwa Domain-Driven Design bukanlah metode magis yang menjamin keberhasilan proyek, melainkan sekumpulan pola pikir dan alat bantu untuk memahami serta mengelola kompleksitas.
Dalam bab ini, kita akan melihat bagaimana DDD diterapkan secara pragmatis di dunia nyata, termasuk kesalahpahaman umum, jebakan organisasi, dan strategi agar tetap waras dalam menghadapi kenyataan.
Kenyataan #1: Tidak Semua Sistem Butuh DDD
Salah satu kesalahan paling sering ditemui di dunia profesional adalah menerapkan DDD di semua tempat.
Padahal, tidak semua sistem punya kompleksitas yang layak untuk itu.
DDD diciptakan untuk domain yang:
Kompleks secara bisnis, bukan hanya teknis.
Penuh ambiguitas dan aturan yang berubah cepat.
Memerlukan komunikasi intens antara developer dan domain expert.
Kalau sistem kamu hanya mencatat data CRUD (Create, Read, Update, Delete), maka memakai DDD lengkap akan terasa seperti menggunakan bazooka untuk memecahkan telur.
“DDD is not for every project — it’s for the ones where business complexity rules.” — Vlad Khononov, Learning Domain-Driven Design (2022)
Jadi, if it’s simple, keep it simple. Gunakan pendekatan ringan seperti Transaction Script atau Active Record untuk modul sederhana, dan hanya terapkan DDD penuh pada bagian yang benar-benar strategis.
Kenyataan #2: Organisasi Lebih Sulit dari Kode
DDD sering kali gagal bukan karena engineer tidak paham model, tapi karena organisasi tidak siap untuk cara berpikir kolaboratif.
Di dunia nyata:
Tim terpisah oleh silo,
Komunikasi antar departemen buruk,
“Ahli domain” tidak selalu punya waktu untuk berdiskusi,
Dan setiap tim punya KPI sendiri-sendiri.
Hasilnya? Setiap orang punya versi modelnya sendiri, dan ubiquitous language yang ideal di buku berubah jadi babel language di kantor.
“The real challenge of DDD is not modeling the software — it’s modeling the organization.” — Khononov, 2022
Strategi realistis: Mulai dari lingkar kecil, satu tim yang mau berkolaborasi penuh. Bangun bounded context pertama di situ, dan buktikan hasilnya. Setelah berhasil, baru tularkan ke tim lain.
Kenyataan #3: Bounded Context Itu Tidak Harus Rapi
Di teori, bounded context terlihat jelas: setiap domain punya batas logis, bahasa sendiri, dan modelnya tidak tumpang-tindih.
Tapi di dunia nyata, batas itu sering kabur:
Ada konteks yang saling tumpang tindih,
Ada istilah yang “nyasar” karena kebutuhan API,
Kadang satu tim harus mengurusi dua domain karena alasan praktis.
Dan itu tidak apa-apa.
DDD bukan tentang kesempurnaan arsitektur, tapi tentang kesadaran terhadap batasan. Selama tim sadar di mana batas tanggung jawabnya, DDD tetap hidup.
“It’s okay if your boundaries are blurry — as long as you know they’re blurry.” — Khononov, 2022
Contohnya, dua tim mungkin sama-sama menggunakan istilah Order. Tapi yang penting adalah:
Mereka tahu makna “Order” di masing-masing context,
Dan mereka tidak saling memaksakan model satu sama lain.
Kenyataan #4: Model Akan Selalu Berubah
Sering kali, tim DDD pemula ingin membuat domain model final sebelum mulai coding. Padahal, seperti dibahas di Bab 11, model domain itu hasil belajar, bukan hasil perencanaan.
Model yang baik bukan yang paling stabil, tapi yang paling mudah beradaptasi.
Praktik nyata: Gunakan pendekatan event-driven untuk memantau perubahan domain. Setiap kali muncul event baru yang tidak masuk akal, itu tanda modelmu butuh revisi.
Misalnya:
// Model awal
enum OrderStatus {
Pending,
Paid,
}
// Setelah bisnis menambah fitur refund
enum OrderStatus {
Pending,
Paid,
Refunded,
}Model berkembang bukan karena salah di awal, tapi karena bisnis berubah dan pengetahuan bertambah.
Kenyataan #5: Kompromi Itu Wajar
Setiap proyek di dunia nyata berhadapan dengan tiga tekanan utama:
Waktu: deadline yang ketat,
Sumber daya: tim kecil, beban besar,
Teknologi warisan (legacy): keputusan lama yang sulit diubah.
Dan di tengah tekanan itu, idealisme DDD kadang harus dikompromikan.
“A pragmatic architect knows when to bend the rules.” — Khononov, 2022
Kompromi tidak berarti menyerah. Yang penting adalah tahu kapan dan kenapa melanggar prinsip.
Contoh kompromi sehat:
Sementara gunakan model anemik (tanpa logika bisnis di entitas), lalu perlahan refactor ketika domain makin jelas.
Tulis event secara manual dulu tanpa bus, lalu evolusikan jadi event-driven architecture saat skalanya cukup besar.
Gunakan shared database sementara untuk sinkronisasi antar context, tapi tandai sebagai temporary coupling.
Kunci keberhasilan DDD di dunia nyata adalah transparansi dalam kompromi.
Kenyataan #6: DDD Adalah Perjalanan, Bukan Tujuan
Banyak tim berpikir bahwa “menerapkan DDD” adalah milestone yang bisa dicapai. Padahal, DDD itu bukan proyek — ia cara berpikir yang berkelanjutan.
DDD yang sehat terlihat bukan dari diagram yang indah, tapi dari komunikasi yang lancar antar tim, pemahaman yang jelas tentang domain, dan model yang tumbuh bersama bisnis.
“The success of DDD is not measured in aggregates, but in shared understanding.” — Vlad Khononov (2022)
Ketika orang bisnis, developer, dan QA bisa berbicara tanpa translator, itulah saat DDD benar-benar hidup, bahkan tanpa disebut DDD.
Kenyataan #7: Legacy Systems Bisa Diperbaiki Bertahap
Banyak perusahaan tidak memulai dari nol. Mereka punya sistem lama, penuh logika bercampur, dan database yang menua.
Kabar baiknya: DDD bisa diterapkan secara bertahap.
Mulailah dari memetakan domain dan event dengan EventStorming (Bab 12). Temukan bounded context tersembunyi di dalam monolit, dan pisahkan secara evolusioner.
Contohnya, dari monolit besar, ekstrak satu domain kecil seperti Invoice Management menjadi microservice mandiri dengan domain model sendiri.
Dengan cara itu, DDD menjadi strategi perbaikan berkelanjutan, bukan proyek overhaul besar.
Heuristik untuk Bertahan di Dunia Nyata
Khononov menutup buku ini dengan beberapa heuristik penting bagi praktisi DDD:
Heuristik: Mulai dari percakapan, bukan kode.
Penjelasan: DDD lahir dari dialog dengan domain expert.
Heuristik: Desain secukupnya.
Penjelasan: Tidak semua bagian butuh arsitektur kompleks.
Refactor berdasarkan pembelajaran.
Penjelasan: Evolusi model harus mengikuti realitas bisnis.
Gunakan bahasa bisnis di kode.
Penjelasan: Nama-nama class, function, dan event harus masuk akal bagi non-engineer.
Toleransi terhadap kekacauan.
Penjelasan: Di awal, model pasti berantakan — dan itu normal.
Rayakan perbaikan kecil.
Penjelasan: Setiap domain yang jadi lebih mudah dipahami adalah kemenangan.
Ringkasnya, DDD yang Sejati Adalah DDD yang Hidup
Pada akhirnya, DDD bukan tentang pola, agregat, atau bounded context yang sempurna. DDD adalah tentang membawa makna bisnis ke dalam perangkat lunak dengan cara yang bisa berkembang bersama waktu.
Di dunia nyata, DDD yang berhasil bukan yang 100% sesuai buku, tapi yang 100% dipahami oleh orang-orang yang membangunnya.
“Perfect DDD doesn’t exist — but meaningful DDD does.” — Vlad Khononov, Learning Domain-Driven Design (2022)
Referensi
Khononov, V. (2022). Learning Domain-Driven Design: Aligning Software Architecture and Business Strategy. O’Reilly Media.

